Waspadai Relokasi Baja Cina

JAKARTA – Kementerian Perindustrian semakin mewaspadai membanjirnya relokasi pabrik baja dari China ke Indonesia. Sebab, hal ini dapat meningkatkan beredarnya baja berkualitas rendah di pasaran.


JAKARTA – Kementerian Perindustrian semakin mewaspadai membanjirnya relokasi pabrik baja dari China ke Indonesia. Sebab, hal ini dapat meningkatkan beredarnya baja berkualitas rendah di pasaran.

“Saat ini belum ada standarisasi teknologi, ke depan harus ada kita masih lakukan pengkajian,” papar Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Kemneterian Perindustrian Ansari Bukhari, di sela-sela acara Pemberian Penghargaan Industri Hijau 2010 di Jakarta, Sabtu (6/3).

Pembuatan standarisasi teknologi ini perlu dilakukan untuk mencegah masuknya pabrik-pabrik yang berteknologi rendah. Saat ini, untuk menghindari banjirnya baja-baja kualitas rendah di pasaran, pemerintah baru melakukan pengawasan barang beredar dengan mengunakan Standar Nasional Indonesia. ”Kita akan terus bekerjasama dengan Kementrian Perdagangan dalam hal pengawasan barang beredar,” kata Ansari.

Menurut Ansari, isu mengenai banyaknya relokasi pabrik baja Cina berkualitas rendah di Indonesia memang menjadi persoalan serius. Namun pemerintah yakin pabrik tersebut tidak akan menganggu produksi pabrik lain. Sebab, produk yang dihasilkan pabrik tersebut tidak dapat diedarkan. ”Mereka (pabrik dengan kualitas rendah) bisa memproduksi namun produksi mereka tidak dapat di edarkan karena tidak sesuai dengan SNI, kalau pun beredar akan segera ditarik, ” kata Ansari.

Restrukturisasi Industri

Fazwar Bujang, Indonesian Ketua Umum Iron and Steel Industry Association (IISIA) mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai tren relokasi besar-besaran pabrik baja skala kecil asal China. Pemindahan pabrik ini dilakukan karena pemerintah China sedang merestrukturisasi industri bajanya. Kebijakan Pemerintah China yang mulai dijalankan pada 2006 ini bermaksud menutup industri baja yang di bawah kapasitas 600 ribu ton per tahun.

Fazwar mengatakan, pabrik-pabrik baja tersebut umumnya hanya memproduksi baja dibawah 100.000 ton per tahun untuk jenis-jenis baja long product. ”Alasan utama para pabrikan baja kecil China pindah ke Indonesia karena Indoneaia dianggap masih longgar terkait ketentuan lingkungan, keselamatan kerja dan lain-lain,” ungkap Fazwar.

Menurut dia, sudah ada sekitar 20 pabrik jenis tersebut yang tersebar di beberapa tempat seperti Cikupa, Tangerang, Semarang, Surabaya dan Medan.

Ia mengatakan, proses produksi pabrik China tersebut di khawatirkan karena hanya menggunakan tenaga manusia yang seharusnya dikerjakan secara mekanik. Fazwar mencontohkan dalam mengisi scrap atau besi bekas dan menarik besi beton dilakukan dengan tenaga manusia.”Ini membahayakan kesalamatan pekerja,” katanya.

Selain itu, proses yang tidak memenuhi standar ini akan menghasilkan baja tulangan yang tidak memenuhi standar aplikasi untuk proyek-proyek infrastruktur.

Pabrik-pabrik kecil Cina itu begitu mudah untuk memperoleh scrap atau besi bekas untuk menghasilkan baja tulangan dan besi beton. ”Bahan bakunya mudah diperoleh tidak perlu bahan baku yang lebih murni,” katanya. Hal ini memungkinkan investasi dalam volume kecil dengan membangun dapur-dapur atau blast furnace yang kecil. Idealnya, kata Fazwar besi bekas itu dicampur dengan beso spon dan hot metal.

Komentar ditutup.