Inilah Penyebab Penyakit Jantung Koroner!!!

DI BANYAK negara, termasuk Indonesia, penyakit jantung koroner (PKJ) adalah pembunuh nomor satu. Penyakit yang terjadi karena penyempitan pembuluh darah koroner ini dipicu oleh banyak faktor. Gaya hidup tak sehat adalah salah satu faktor yang memicu terjadinya penyakit ini.

DI BANYAK negara, termasuk Indonesia, penyakit jantung koroner (PKJ) adalah pembunuh nomor satu. Penyakit yang terjadi karena penyempitan pembuluh darah koroner ini dipicu oleh banyak faktor. Gaya hidup tak sehat adalah salah satu faktor yang memicu terjadinya penyakit ini.

Menurut Prof Dr Dr Budhi Setianto SpJP, ahli penyakit jantung dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat, koroner adalah pembuluh darah atau arteri. Fungsinya adalah memberi makan otot jantung supaya jantung dapat berfungsi dengan baik. “Penyakit jantung koroner disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner yang mendarahi otot jantung,” katanya.

Pembuluh darah menyempit karena ada penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah. Proses ini disebut aterosklerosis. Ketika arteri atau pembuluh darah tersumbat, aliran darah akan menurun, sehingga terjadi serangan jantung. “Serangan jantung juga disebabkan oleh vasokontriksi atau penyempitan pembuluh darah akibat kontraksi dari otot pembuluh darah,” sambungnya.

Penyebab dan Gejala

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit jantung koroner. Pada umumnya ada dua bagian, yaitu faktor penyebab yang dapat diubah dan faktor penyebab yang tidak diubah.

Faktor penyebab yang tidak dapat diubah adalah faktor keturunan dan jenis kelamin. Jika orangtua atau kakek dan neneknya menderita penyakit jantung koroner, kemungkinan besar anaknya menderita penyakit jantung koroner, kemungkinan besar anaknya menderita penyakit ini adalah laki-laki. Banyak laki-laki berusia 30 tahun menderita penyakit ini.

Sementara faktor yang dapat diubah berkaitan dengan gaya hidup. Kegemukan, hipertensi (darah tinggi), diabetes melitus (kencing manis), kebiasaan merokok, dan kadar lemak darah yang tinggi bisa memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

Demikian juga stres. Pada saat stres, terjadi ketidakseimbangan kerja pada jantung. Kerja jantung bertambah, sehingga otot jantung memerlukan banyak asupan darah.

Ada beberapa gejala yang muncul. Gejala yang khas adalah dada terasa sakit atau nyeri dan seperti dutusuk benda tajam. Biasanya rasa sakit ini berlangsung sampai 20 menit. Rasa ini, nyeri, harus benar-benar diidentifikasi untuk mengetahui apakah rasa itu disebabkan oleh kelainan jantung atau oleh gangguan otot atau gangguan pada fungsi pernapasan.

Nyeri dada jantung biasanya seperti dada ditindih benda berat dan terasa sakit pada tulang dada atau yang disebut dengan sternum. Rasa nyeri ini bisa menjalar hingga ke leher dan punggung bagian kanan dan kiri. “Sakit dada juga terjadi karena si pasien melakukan aktivitas seperti bekerja terlalu berat,” jelasnya.

Jika muncul gejala seperti itu, pasien harus pergi atau dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis. Pasien akan langsung didentifikasi oleh dokter ahli jantung apakah benar terjadi serangan jantung koroner atau tidak. “Biasanya dokter langsung memberikan obat-obat pelebar pembuluh darah koroner atau nitrat. Kalau memang benar terjadi serangan jantung, maka akan ditangani lebih lanjut oleh dokter ahli jantung,” sambungnya.

Pemeriksaan dan Pengobatan
Pertama-tama adalah anamnesis yaitu tanya jawab dengan pasien tentang sakit dada yang khas itu. Kemudian ada pemeriksaan dengan EKG (Elektro Kardiogram). “Pemeriksaan ini dilakukan pada waktu tidur atau yang disebut dengan statis,” katanya.

Selanjutnya, pemeriksaan dengan cara kardiologi nuklir, yaitu sebuah bentuk pemeriksaan yang menggunakan sedikit bahan radioaktif untuk melihat aliran darah otot jantung, mengevaluasi fungsi pompa jantung, melihat luas dan lokasi otot jantung yang rusak dan melihat perfusi otot jantung.

Selain kardiologi nuklir, ada juga scanning nuklir jantung, yaitu sebuah bentuk pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi secara dini ada-tidaknya penyakit jantung koroner, untuk mengetahui pembuluh koroner mana yang memberikan dampak iskemia pada pasien yang telah dilakukan kateterisasi jantung, untuk mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudah dilakukan balon angioplasty dan bedah pintas koroner, dan stratifikasi prognostik. “Bila gangguan perfusi nuklirnya luas, maka harapan hidup dan kejadian serangan jantung ke depan semakin buruk,” tandasnya.

Pengobatan

Ada beberapa jenis obat yang biasanya diberikan kepada penderita penyakit jantung koroner ini. Pertama adalah golongan statin. Obat ini berfungsi menurunkan kadar lemak darah dengan mencegah pembentukan kolesterol terutama kolesterol jahat atau low density lippoprotein (LDL). “Obat ini juga mempunyai efek pleotropik yaitu mengurangi inflasi plak agar tidak mudah pecah. Apabila plak pecah, bisa terjadi serangan jantung,” terang dr Budhi.

Statin ini hanya diminum sekali dalam sehari. Biasanya pada malam hari untuk jangka waktu yang panjang. Efek samping obat ini adalah terjadinya gangguan hati. “Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati secara berkala. Setelah beberapa bulan pemakaian, biasanya otot terasa nyeri,” sambungnya.

Kedua, asetosal. Asetosal berfungsi menghambat pengumpulan keping darah atau trombosit dan mencegah serangan jantung sampai 20 persen. Tapi asetosal ini tidak bisa dikonsumsi pasien yang menderita sakit lambung. Sebagai gantinya, bisa diberikan clopidrogel yang dikonsumsi selama 1 bulan sampai setahun.

Obat lain yang bisa diberikan adalah penyekat beta. “Obat ini berfungsi menurunkan denyut jantung dan melebarkan koroner atau vasodilatasi,” imbuh dr Budhi. Tapi penderita asma, penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau dengan blok irama jantung tidak boleh mengonsumsi obat ini. Sebagai gantinya, bisa diberikan golongan antagonis kalsium seperti diltiazem.

Obat lain yang juga diberikan adalah penghambat enzim pengubah angiotensinogen. Obat ini mencegah perubahan struktur dan mengurangi beban jantung. “Pemberian enzim pengubah angiotensinogen itu sendiri dalam jangka panjang dan mempunyai efek samping yaitu si pasien mengalami gangguan batuk dan bisa diganti dengan golongan penghambat reseptor angiotensin,” jelasnya.

Komentar ditutup.