Alternatif Proses Pembuatan Lempengan Baja Tipis ( thin strip ) masa depan

Baja adalah sebuah senyawa antara Besi (Fe) dan Karbon (C), di mana sering juga ditambahkan unsur Chrom (Cr), Nickel (Ni), Vanadium (V), Molybdaen (Mo) dan lain-lain untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu yang dikehendaki pada aplikasi di lapangan, seperti sifat anti korosi, tahan panas, tahan temperatur tinggi.

Baja adalah sebuah senyawa antara Besi (Fe) dan Karbon (C), di mana sering juga ditambahkan unsur Chrom (Cr), Nickel (Ni), Vanadium (V), Molybdaen (Mo) dan lain-lain untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu yang dikehendaki pada aplikasi di lapangan, seperti sifat anti korosi, tahan panas, tahan temperatur tinggi.

Dibandingkan jenis logam yang lain (misalnya Aluminium, Tembaga, dll) maka besi/baja adalah bahan yang paling banyak diproduksi di dunia hingga saat ini. Statistik menunjukkan, bahwa 92 % penggunaan logam dunia adalah besi/baja. Pada tahun 1998, produksi Rohstahl/raw steel (baja baku) sejumlah 750 juta ton. Karena besarnya pangsa pasar baja ini, maka negara-negara yang maju dalam industri baja berlomba-lomba untuk membuat rekayasa-rekayasa baru di dalam proses produksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan baja berkualitas bagus dengan harga yang relatif murah.

Salah satu produk setengah jadi yang penting adalah lempengan baja (strip, plate, sheet)dengan berbagai macam variasi ketebalan. Lempengan baja banyak digunakan sebagai bahan baku untuk produksi karoseri mobil, kereta, hingga alat-alat dapur.

Proses konvensional pembuatan lempengan baja biasanya sebagai berikut : Pertama kalinya, baja cair dicor dengan metode Strangguss/continuous casting. Dari sini diperoleh hasil baja dalam bentuk batangan (slab) dengan ketebalan 150 hingga 320 mm. Proses selanjutnya adalah penipisan ketebalan dengan rolling mill sehingga diperoleh lempengan tipis 2 hingga 20 mm. Salah satu cara penyederhanaan produksi adalah dengan menciptakan instalasi continuous casting yang mampu menghasilkan baja dengan ketebalan di bawah 150 – 320 mm. Sejak tahun 1980, telah berhasil dicor baja batangan dengan ketebalan di bawah 25 mm (misalnya dengan metode CPR). Dengan demikian bisa dilakukan penghematan pada proses rolling.

Sejak lima belas tahun ini Institute for metal forming (IBF), RWTH Aachen University of Technology, Jerman bekerjasama dengan Thyssen Krupp Stahl AG (TKS) mencoba melakukan terobosan baru dalam produksi strip (lempengan baja tipis). Terobosan baru ini sebenarnya telah diimpi-impikan sejak lama oleh Sir Henry Bessemer pada tahun 1891. Ahli baja asal Inggris tersebut bahkan telah mendesign dan mempatenkan instalasi proses pembuatan baja tipis yang terkenal dengan nama “double roller process”. Dalam prinsip ini, baja cair dicor di antara dua buah roller (silinder) berpendingin air, yang berputar berlawanan arah. Ketebalan lempengan baja yang dihasilkan tergantung dari setelan celah antara dua buah silinder tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi geometri produk adalah penyebaran tekanan (pressure) di antara celah dan juga penyebaran temperatur di dalam silinder. Tahap berikutnya, lempengan baja dilewatkan pada pendingin (air), kemudian melalui cold rolling, dan terakhir digulung (coiling). Dengan metode ini, telah berhasil dicor lempengan baja dengan ketebalan di bawah 3 – 4 mm, sehingga hanya dengan proses rolling satu tahap saja bisa diperoleh baja dengan ketebalan seperti produk jadi. Prinsip double roller process ini baru bisa direalisir di akhir abad 20 seiring dengan kemajuan komputerisasi pada bidang teknologi kontrol dan pengukuran.

Di dunia ini, menurut keterangan salah seorang researcher dari TKS AG, metode ini dikembangkan di Italia, Australia, Jepang, dan Jerman. Sementara USA lebih suka untuk membeli hasil karya dari Australia. Hingga saat ini, masing-masing saling bersaing, dan saling menyembunyikan hasil-hasil yang telah dicapai. TKS AG sendiri telah membuat sebuah instalasi thin strip casting (pengecoran lempengan baja tipis) dengan metode double roller di salah satu pabriknya di kota Krefeld, Jerman. Pada tanggal 10 Desember 1999 telah dilakukan test instalasi yang pertama kalinya, dengan hasil lempengan baja setebal 3 mm, lebar 1100 mm, berat 36 ton. Material yang dicor adalah baja dari jenis stainless-steel. Nantinya, Krefeld akan memproduksi strip dengan ketebalan 1,5 hingga 4,5 mm, ukuran lebar 1050 hingga 1350 mm, dengan kecepatan 100 meter setiap menitnya.

“Paling cepat tahun depan produksi bisa dimulai,”paparnya lebih lanjut.

(Sumber: Berita Iptek)

Iklan

Komentar ditutup.