Rupiah akan Kembali ke Level Rp 9.000 per Dolar AS

JAKARTA. Wajah rupiah memang babak belur sepekan lalu. Namun, pekan ini para analis optimistis rupiah kembali menguat dan kembali ke level Rp 9.000 per dolar AS.

JAKARTA. Wajah rupiah memang babak belur sepekan lalu. Namun, pekan ini para analis optimistis rupiah kembali menguat dan kembali ke level Rp 9.000 per dolar AS.

Jumat (21/8), rupiah berakhir di posisi Rp 10.028 per dolar AS. Jika menghitung seminggu, mata uang cap garuda ini melemah 0,98% ketimbang penutupan akhir pekan sebelumnya (14/8) yang berada di posisi Rp 9.930 per dolar AS.

Analis Harumdana Berjangka Andri Zakarias Siregar menyatakan, rupiah mendapat sentimen positif dari pernyataan Gubernur Federal Reserve ( The Fed) Ben Bernanke. Orang nomor satu di bank Sentral Amerika itu meramal, resesi global bakal segera berakhir.

Nah, ucapan Bernanke ini makin mempertebal keberanian para pemodal untuk melepas dolar AS. Para investor lebih berani berinvestasi di negara berisiko tinggi, dan melepaskan dolarnya. Pada akhirnya dolar AS akan melemah, dan menguatkan mata uang lain termasuk rupiah.

Namun, penguatan rupiah bisa tertahan akibat kebijakan moneter di China. Pemerintah China memperketat kucuran kredit dari bank, dengan cara meningkatkan rasio permodalan perbankan. Ini menjadi sentimen buruk bagi rupiah.

Pekan ini, Andri meramal rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 9.950-Rp 10.050 per dolar AS. Hingga akhir tahun, Andri meramal rupiah bisa menyentuh level Rp 9.600 per dolar AS.

Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ikhsan menjelaskan ada dua faktor pengangkat rupiah. Pertama, kegairahan di pasar saham Asia dan Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan lalu (21/8), indeks saham Dow Jones menguat 1,67% menjadi 9.505,96. Ini adalah posisi tertinggi sepanjang tahun ini.

Pada gilirannya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut naik. Dana asing pun kembali masuk ke Indonesia. “Sehingga rupiah akan menguat,” ujarnya, kemarin.

Kedua, proyek infrastruktur mulai berjalan pada paruh kedua 2009, dan menggiring bank untuk getol menyalurkan kredit. “Untuk pembiayaan itu, bank akan menarik dolar yang disimpan di luar negeri,” ungkapnya.

Hingga akhir tahun, Fauzi memprediksi rupiah masih berpeluang menguat ke level Rp 9.500 per dolar AS.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa jua melihat peluang penguatan rupiah sepekan ini masih terbuka lebar. Selain fundamental ekonomi Indonesia masih bagus, positifnya data ekonomi AS menaikkan optimisme pasar.

Purbaya meramal, sepekan ini, rupiah akan berada antara Rp 9.800-Rp 10.025 per dolar AS. Pada akhir 2009 mendatang, ia menghitung, rupiah berada di antara Rp 9.500-Rp 10.000 per dolar AS.

(Sumber :  KONTAN)

Komentar ditutup.