Besi Baja Gantikan Kelangkaan Kayu

Industri berbahan baku kayu semakin sulit mendapatkan pasokan kayu karena jumlah bahan baku yang terbatas dan semakin ketatnya peraturan

Industri berbahan baku kayu semakin sulit mendapatkan pasokan kayu karena jumlah bahan baku yang terbatas dan semakin ketatnya peraturan perdagangan kayu. Karena itu, konstruksi besi baja menjadi bahan subtitusi kayu yang paling menjanjikan.

Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Kamis (28/5) di Surabaya. Bahan baku kayu semakin terbatas karena munculnya berbagai kebijakan pemberantasan illegal logging. “Selain itu, beberapa negara pengimpor hanya mau menerima produk jadi kayu yang bahan bakunya memiliki asal-usul jelas,” ucapnya.

Menyikapi hal ini, menurut Fahmi, sejumlah industri konstruksi besi baja perlu mengembangkan inovasi-inovasi baru pengganti konstruksi bangunan berbahan dasar kayu. Berdasarkan sejumlah penelitian, konstruksi bangunan berbahan dasar besi baja memiliki beberapa keunggulan, seperti struktur tak mudah berubah, tak dimakan rayap, serta lebih kuat dan tahan lama.

Dalam 20 tahun terakhir, kuda-kuda bangunan yang selama ini didominasi bahan dasar kayu mulai diganti menggunakan baja ringan. “Terbukti, kuda-kuda bangunan berbahan baja lebih murah, kuat, dan tahan lama,” kata Fahmi.

Direktur Utama produsen konstruksi besi baja, PT Dutacipta Pakarperkasa, Hans W Sendjaja, mengatakan, nilai investasi pemakaian konstruksi bangunan berbahan baja lebih mahal daripada kayu. Namun, dalam jangka panjang tak memerlukan biaya perawatan mahal seperti kayu sehingga secara keseluruhan lebih murah dibandingkan konstruksi berbahan kayu.

Konstruksi bangunan dengan besi baja memiliki umur antara 50 tahun dan 80 tahun. “Pembangunannya juga lebih cepat, murah, dan secara artistik lebih menarik,” kata Hans.

Selain sebagai bahan baku permukiman, besi baja juga menjadi bahan dasar pembuatan jaringan telekomunikasi, bandara, jembatan, dan pelabuhan. Nilai ekspor produk besi baja Indonesia tahun 2007 sebesar 187,26 juta dollar AS. Tahun 2008, nilai ekspor produk ini naik menjadi 325 juta dollar AS.

Minim

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Zainal Abidin mengungkapkan, bahan baku kayu di Jawa Timur sangat minim. Selain mengandalkan produk kayu dari Perhutani, pasokan kayu Jawa Timur harus mendatangkan dari tiga pulau, yaitu Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Karena persyaratan perdagangan kayu yang sangat rumit dan ketat, maka di Jawa Timur sedang dirancang pendirian terminal kayu, yaitu semacam pasar induk kayu di Gresik dan Tuban. “Namun, hambatan terbesar kami adalah belum tersedianya akses transportasi menuju terminal kayu tersebut,” ungkap Zainal.

Di Jawa Timur, Pendapatan Domestik Regional Brutto (PDRB) dari barang kayu dan hasil hutan periode triwulan I tahun 2009 turun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2008. Tahun lalu, PDRB barang kayu dan hasil hutan mencapai 531.183,93 juta dollar AS, sedangkan tahun ini turun menjadi 485.794,80 juta dollar AS.

(Sumber : Kompas Online)

Komentar ditutup.