Produsen Baja Minta Pemerintah Kaji Ulang Skema FTA

JAKARTA. Era perdagangan bebas Indonesia dengan negara lain atau lazim di kenal dengan Free Trade Agreement (FTA) sudah di depan mata. Meski demikian, ada sejumlah pelaku industri yang merasa keberatan atas

JAKARTA. Era perdagangan bebas Indonesia dengan negara lain atau lazim di kenal dengan Free Trade Agreement (FTA) sudah di depan mata. Meski demikian, ada sejumlah pelaku industri yang merasa keberatan atas penerapan FTA ini. Produsen baja lokal, misalnya. Mereka meminta pemerintah untuk meninjau ulang kesepakatan FTA antara Asean-China dan Asean-Korea Selatan. Hal ini dilakukan karena terpicu oleh kondisi industri yang terus mengalami kemerosotan.

Pengusaha menilai, kedua perjanjian ini lebih banyak merugikan produsen baja lokal. Apalagi, industri baja China dan Korsel terbilang kuat karena ditopang dengan berbagai fasilitas dari pemerintahnya. Para produsen baja khawatir, perjanjian ini mempermudah masuknya produk baja impor China dan Korsel ke Indonesia. Padahal, saat ini saja, produk baja impor sudah membanjiri pasar lokal.

Sekadar informasi, dalam kerangka FTA Asean-China, sebanyak 93% dari 9.000 pos tarif bakal mengalami penurunan bea masuk (BM). Besaran penurunannya bisa mencapai 0% pada 2010. Beberapa produk dalam tahap penurunan tarif itu antara lain lembaran besi baja yang belum diproduksi Indonesia. Meski dalam perjanjian menyebut produk yang belum diproduksi lokal, pengusaha khawatir, produk baja impor yang sudah dihasilkan produsen nasional pun tetap ikut masuk.

“Jika perjanjian ini banyak merugikan industri baja nasional, sebaiknya pemerintah bisa bersikap lebih arif,” kata Co-Chairperson Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Irvan Kamal Hakim.

(Sumber : Kontan Online)

Komentar ditutup.